Pesimisme Schopenhauer: Makna Emansipatoris Hidup

Adalah Arthur Schopenhauer, salah seorang tokoh filsuf yang berasal dari Jerman, yang pada abad ke-19 tertarik untuk memulai kerja-kerja pemikirannnya dalam meneliti bilik-bilik realitas kehidupan manusia yang terpersepsikan oleh pandangan umum sebagai sesuatu yang negatif. Barangkali memang kerena karakter alamiah pemikirannya, disiplin-disiplin pemikiran yang Schopenhauer gagas cenderung berdiri di bawah semangat besar menemukan sisi-sisi positif yang tersembunyi di balik negatifitas. Oleh karenanya termaklumi, jika dalam prinsipnya, tak ada yang tak bermakna dalam kehidupan ini.

Di antara medan negatif yang menjadi objek penelitian Schopenhauer adalah perihal pesimisme atau sikap pesimis. Jika dalam budaya sosial masyarakat pesimis itu dianggap buruk dan merugikan, lain halnya dengan Schopenhauer yang melihat pesimisme justru sebagai sebuah alternatif yang layak dipertimbangkan menjadi suatu konsep menjalani kehidupan yang oleh Albert Camus dicap “absurd” ini. Gagasannya mengenai konsep hidup yang “pesimistik” tersebut ia tuangkan dalam sebuah buku yang menjadi karya monumentalnya berjudul The World as Will and Representation (Cartwright, 2010).

Alih-alih buruk dan merugikan, nilai yang dibawa dalam filsafat pesimisme agaknya patut didengar bahkan dijadikan pertimbangan dalam menjalani hidup dengan pola pikiryang lain. Bila direnungi lebih panjang, sejatinya bukanlah pesimis yang membuat hidup seseorang kerap jatuh. Optimis pun, terlebih dalam porsinya yang melampaui batas, justru kerap menjadi penyebab sesungguhnya dari gagalnya hidup seseorang. Manusia seringkali dibuat sebegitu jatuh, putus asa, hingga mematikan dirinya sendiri, juga karena ia yang sebelumnya menaruh ekspektasi, target, cita-cita (optimisme) yang terlalu tinggi/besar. Sehingga optimisme yang terlampau tinggi itulah yang, sejatinya, membantingnya begitu keras tatkala kenyataan tak sesuai dengan apa yang ia harapkan.

Dalam karya besarnya yang berjudul The World as Will and Representation, Arthur Schopenhauer hendak merubah mindset kita, dari yang sebelumnya memandang pesimisme sebagai suatu kegagalan hidup, bahkan sebagai suatu ketidaknormalan, menjadi sebuah tawaran menjalani kehidupan dengan “biasa-biasa saja”. Schopenhauer hendak menyeimbangkan persepsi hidup dengan menghadirkan prinsip emansipatoris bahwa menjalani hidup tidak dengan cita-cita atau harapan besar, atau bahkan tanpa harapan sama sekali pun, masihlah sebuah kenormalan hidup, bahkan dapat menjadi tawaran alternatif tatkala mendapati banyak sisi dalam kehidupan sedang tidak memihak kita.

Filsafat Pesimisme: Sebuah Tawaran Memaknai Hidup

Pertama-tama, Schopenhauer berusaha merubah sugesti dan perhatian pola pikir kita. Schopenhauer menganggap bahwa manusia lebih sering hanya melihat dunia sebagai yang isinya cuma hal-hal positif, menguntungkan, dan senang-senang saja. Yang oleh karenanya, berbagai ekspektasi kerap dipasangkan tinggi-tinggi demi mendapatkan yang manis-manisnya. Manusia lupa bahwa dunia adalah keniscayaan sepasang dua sisi: positif-negatif, baik-buruk, beruntung-sial. Yang karenanya, pada titik ini, pesimisme diharapkan oleh Schopenhauer bukan sebagai mental perusak (destructive mentality)namun sebagai mental penyeimbang (balancing mentality).

Schopenhauer berpendapat bahwa hidup adalah pengulangan. Banyak orang yang jatuh bangun mengejar mimpinya, kadang gagal, kadang pula berhasil, begitu ia gagal tak lelahnya ia bangkit dan kejar kembali apa yang menjadi harapannya itu, hingga walau dengan mati-matian, dan begitu seterusnya tak ada akhir. Menurut Schopenhauer, terhadap realitas semacam itu, kita perlu mencurigai dan memeriksa jangan-jangan yang demikian itu bukan hal yang baik, melainkan adalah gejala over-optimisme yang hasilnya tak lain hanya sebuah pengulangan-pengulangan hidup yang justru tak begitu berarti, terlebih bagi pelakunya sendiri, kecuali hanya lelah yang pada akhirnya paling terasa. Pesimisme, dalam konteks tersebut, sesekali perlu diambil untuk menemukan “momentum pemberhentian”, sebelum terlanjur kehilangan banyak hal hingga akhirnya kolaps.

Begitu pula dalam aktifitas-aktifitas kecil seperti makan, mandi, sekolah, mencintai, menyendiri, dan lain-lain. Bahwa kadang perlu melihatnya sebatas pengulangan-pengulangan: tak perlu sampai memewahkan hidangan makanan, tak perlu sampai menjatuhkan hati kepada seseorang terlampau dalam, kalau toh nanti akan lapar lagi, kalau toh tidak ada yang tahu orang yang dicintai begitu dalam bisa berubah menjadi yang paling mengecewakan sepersekian saat kemudian, dan begitu seterusnya sesungguhnya hidup ini berjalan.

Dalam tulisannya, Schopenhauer membagi kebahagian-kepuasan menjadi dua macam, yakni kebahagiaan-kepuasan optimistik dan kebahagiaan-kepuasan pesimistik. kebahagiaan-kepuasan optimistik adalah sejenis luapan kebahagiaan terhadap suatu pencapaian atau keberhasilan tertentu, namun itu semakin membuat seseorang berambisi untuk meraih capaian-capaian berikutnya. Pada kondisi yang terus berjalan seperti itu, sesungguhnya kita tidak tahu, akan berakhir pada situasi seperti apakah langkah kita, akan berhenti tepat pada keberhasilan yang membahagiakan ataukah justru pada kegagalan yang menyedihkan? Oleh karenanya, sebelum semuanya terlanjur buruk, kebahagian-kepuasan pesimistik mendesak untuk dikonfirmasi sebagai suatu perayaan atas keberhasilan saat ini, tanpa ada kerisauan atau ambisi buta akan keberhasilan esok hari (Janaway, 2002).

Pada titik ini, pesimisme mengajarkan kepada kita untuk secara benar-benar menikmati keberhasilan yang sudah nyata, bukan yang baru di depan mata, apalagi masih esok hari yang belum jelas statusnya. Pesimisme mengajarkan kepada kita untuk berdaulat atas kenikmatan-kenikmatan hari ini dan saat ini juga. Pesimisme menjadikan kita sebagai manusia yang “merdeka” dari belenggu ambisiusitas keserakahan akan nasib di kemudian hari yang semu. Pada titik ini pula Schopenhauer menegaskan bahwa ketika hasrat itu masih dalam tahap keinginan, kerap akan menjadi sesuatu yang berbeda manakala hasrat tersebut sudah terpenuhi. Ia kerap menjelma sebagai hasrat yang buas dan membabi buta.

Oleh karenanya, sampai di sini dapat disimpulkan bahwa pesimisme yang diusung oleh Arthur Schopenhauer membawa misi kepada kita agar dapat menjadi pribadi yang bijaksana mengatur harapan: memperlakukan harapan dan cita-cita bukan sebagai perkara yang niscaya untuk dikejar, akan tetapi juga sebagai hal yang lebih niscaya untuk diterima sebagai bentuk “kenyataan normal” ketika tidak sesuai harapan. Pesimisme Schopenhauer membawa spirit untuk berhenti mengutuk sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan, hingga kemudian tak sekedar kata-kata, namun sungguh-sungguh mengimani bahwa hakikatnya “segala sesuatu sudah sebagaimana mestinya”.

Pesimisme juga menyiratkan nilai bahwa tak ada yang tak berarti di dunia ini. Segalanya memiliki arti. Seluruh elemen realitas di dunia ini, baik itu hal kecil atau besar, hal baik atau buruk, mewah atau bukan, kebahagiaan atau kepedihan, keberhasilan atau kegagalan, masing-masing memiliki arti yang sama persis berharganya satu sama lain. Maka, jika dirasa optimisme membuat kita terlampau maju hingga justru menjurus lupa, pesimisme membuat kita kembali, mundur barang selangkah, mengakui keterbatasan diri dalam kesejatian entitas bernama manusia.

Referensi bisa dikroscek berikut:

Cartwright, E. David. Schopenhauer: A Biography. (United Kingdom: Cambridge University Press, 2010). // Janaway, Christopher. Schopenhauer: A Very Short Introduction. (England: Oxford University Press, 2002).//

Ahmad Harish Maulana, seorang santri dan mahasiswa. Telah menyelesaikan studi sarjana di Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga serta pernah nyantri, ngaji dan ngabdi di Ponpes Langitan Widang Tuban semasa sekolah dasar hingga menengah atas.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top