
Buku ini adalah sekumpulan esai ringan, tentang sarat makna hidup dan spiritualitas kita hari ini. Ditulis dengan bahasa sederhana dan dengan beberapa guyonan renyah, sangat sesuai untuk teman duduk anda di saat jeda aktivitas keseharian. Ada sekitar 30 judul yang ditulis oleh penulis, dan semuanya relevan dengan topik Islam keseharian kita. Dari buku ini ada satu pesan mendalam yang ingin dikampanyekan, “Keimanan, Ilmu Pengetahuan, Kehidupan, serta Spiritualitas, adalah serangkaian kebutuhan kejiwaan yang harus tumbuh di setiap sanubari manusia.” Setiap esai di dalamnya berdiri sebagai sebuah jendela untuk melihat satu persoalan dari sudut pandang yang segar dan menenangkan. Mulai dari membahas seni ikhlas saat rencana tak sesuai harapan, menemukan ibadah dalam pekerjaan yang melelahkan, hingga memaknai kembali ritual agar tak menjadi sekadar kebiasaan. Ditulis dengan bahasa yang mengalir dan mudah dicerna, buku ini adalah teman bagi siapa pun yang sedang mencari cara untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Islam dalam napas kehidupan sehari-hari, menjadikannya bukan sekadar identitas, melainkan sumber kekuatan.
Dari sudut penulis sendiri, buku ini mengemban misi sederhana: Islam harus benar-benar terus disuarakan rahmatan lil alamin. Rahmat Yusuf Aditama tumbuh dengan kecintaan mendalam pada dunia ilmu dan pesantren. Berawal dari Sedayulawas, Lamongan, ia menapaki perjalanan panjang melalui Pondok Pesantren Walisongo Probolinggo, lalu menempuh pendidikan formal di Babat dan Malang, hingga akhirnya bermuara di Yogyakarta untuk menyelami keilmuan Al-Qur’an dan Tafsir di jalur akademik formal. Kultur kehidupan akademis di Jogja memberinya suasana tenang yang menumbuhkan kegigihan menulis—sebuah kebiasaan yang menjadi jalan pengabdian sekaligus cara mengekspresikan kegelisahan intelektual.
Dalam perjalanannya, menulis bukan hanya aktivitas intelektual, melainkan juga ruang refleksi. Dari kamar sunyi tempat ia menetap di Yogyakarta hingga ruang-ruang keseharian yang ramai, ia berusaha menghadirkan tulisan yang lahir dari pengalaman hidup sekaligus khazanah kitab kuning yang ia pelajari. Konsistensi ini membentuknya sebagai akademisi yang tak sekadar membaca realitas, tetapi juga berusaha mengolahnya menjadi gagasan segar.
Kini, sebagai dosen dan pengasuh di STIQSI Lamongan, Rahmat Yusuf Aditama menyoroti fenomena keberagaman keimanan yang sering kali dicemari fanatisme akut. Ia meyakini bahwa agama semestinya meneduhkan, bukan memicu jarak dan kebencian. Maka, karya-karyanya hadir sebagai upaya melawan arus, menawarkan perspektif bahwa iman bukan sekadar identitas yang dipeluk secara kaku, melainkan energi spiritual yang menenangkan dan memanusiakan.
