Matahari Pelabuhan Sebelum Pukul Empat

Dalam Matahari Pelabuhan Sebelum Pukul Empat, pembaca diajak menyusuri lorong-lorong kehidupan di pesisir yang sunyi, tempat di mana azan bercampur dengan suara ombak, dan iman tumbuh di antara garam, pasir, dan kesederhanaan hidup. Buku ini berisi kumpulan cerpen bernapas Islam pesisir, menuturkan kisah orang-orang kecil yang berjuang menjaga harapan di tengah keterbatasan.Cerita-ceritanya menyorot masyarakat tradisional yang hidup di tepian modernitas, di mana keyakinan dan kebudayaan lokal sering kali bersinggungan dengan kenyataan hidup yang keras. Ada nelayan yang melawan badai bukan hanya di laut, tapi juga dalam hatinya; guru mengaji yang mengajar di surau reyot; dan anak-anak yang tumbuh di dunia yang pelan-pelan kehilangan arah.

Namun di balik kesunyian dan kemiskinan itu, setiap kisah memantulkan cahaya spiritualitas yang tak pernah padam. Tema-tema marjinal dan distopia juga hadir bukan untuk meratapi nasib, tetapi untuk menunjukkan bahwa bahkan dalam dunia yang retak, masih ada ruang bagi doa, cinta, dan keteguhan. Di pelabuhan sebelum pukul empat, saat matahari mulai meredup dan perahu kembali ke darat, pembaca akan menemukan potret kehidupan yang sederhana tapi sarat makna: tentang kehilangan dan penemuan, tentang manusia yang mencari Tuhan di antara puing-puing dunia.

Matahari Pelabuhan Sebelum Pukul Empat bukan sekadar kumpulan cerita, melainkan cermin jiwa masyarakat yang diam tapi dalam, yang mengajarkan bahwa kadang keindahan justru lahir dari kesunyian dan keikhlasan yang tak terucap

Scroll to Top