Semantik Syahadah dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an bukanlah sekadar teks statis, melainkan sebuah bentang semantik di mana satu kata sering kali menyimpan spektrum makna yang berlapis dan dinamis—sebuah fenomena yang dalam studi linguistik dikenal sebagai polisemi. Ambil contoh kata Syahadah; dalam struktur bahasa wahyu, ia tidak hanya bermuara pada makna “persaksian” secara legalistik, namun merambah pada dimensi “kehadiran,” “alam yang tertangkap indra” (alam al-syahadah), hingga manifestasi kebenaran yang paling radikal.

Di sinilah pendekatan Toshihiko Izutsu menjadi krusial; ia mengajak kita melihat kata bukan sebagai satuan terisolasi, melainkan sebagai titik koordinat dalam sebuah jaringan relasi yang membentuk satu pandangan dunia (Weltanschauung) yang utuh. Melalui kacamata Izutsu, buku ini membedah bagaimana Syahadah beroperasi sebagai poros yang menghubungkan dimensi yang tampak dengan yang gaib, menunjukkan bahwa di balik satu istilah sederhana, Al-Qur’an sebenarnya sedang membangun sebuah arsitektur pemikiran yang menuntut manusia untuk mendefinisikan ulang seluruh realitas di hadapannya.

Scroll to Top