Spiritualitas dan Kesalehan Sosial

Spiritualitas dalam masyarakat modern seringkali dipahami sebagai tindakan dogmatik dalam beragama. Konteks ini pada akhirnya menempatkan spiritualitas seakan-akan sebagai ruang khusyu’ saja antara individu dengan “Sang Khaliq”. Pada akhirnya, simbol spiritualitas terekam sebagai tindakan individu yang hanya mengedepankan tentang dogma keshalehan individual, tanpa mau tahu kepada “Yang Sosial”. Individu seakan-akan terdogmakan hanya dalam anasir-anasir ibadah vertikal saja, sebagai contoh, kukuh dalam shalat hanya sebagai ritual tanpa memberi ruang renung tentang refleksi sosial. Menetap dalam zakat hanya sebagai perintah, tanpa mau tahu, betapa zakat adalah cara diri menemukan “roso” tentang manusia lain. Larut dalam romatisme puasa dan sinis pada puasa orang lain, atau keteguhan dalam haji dan menidakkan manusia lain dengan label haji etalase.

Banyak manusia (sebagai konstruksi sosial masyarakat modern) memberi stereotype kepada manusia dalam koridor “Yang Spiritualitas” sebagai fundamental. Terjadilah dikotomi tentang “Yang Spiritualitas” dengan “Yang Tidak Spiritualitas”. Orang yang melakukan tindakan agama, seringkali dikonstruksi sebagai cara untuk mengukuhkan identitas spiritualitas individu, bukan untuk memberi harga dan makna tentang kesadaran human. Jika ini yang terjadi, modernitas dalam spirit kapital, sejujurnya, sedang merayakan keberhasilannya, yaitu memarjinalkan esensi agama.

Kekuatan buku ini terletak pada narasi kontemplatif. Kita dibawa pada perenungan panjang melalui deskripsi sederhana tetapi kukuh dalam esensi. Puzzle-puzzle spiritualitas seperti etika, moralitas, kasih sayang, pelayanan, pengendalian diri, integritas diri, koneksi Ilahiah, terasa utuh dan pada akhirnya saling mengait sebagai detak satu-satu. Detak tersebut semoga terus tumbuh dan menjadi cara kita untuk menselaraskan antara kesalehan individual dengan kesalehan spiritual.

Scroll to Top