Siapakah al-Sa’adah dan al-Shaqawah?
Sudahkah perjalanan hidup kita ini adalah sebenar jalan menuju kebahagiaan? Pertanyaan itu sederhana, tapi secara makna acapkali membuat kita sering jatuh dalam kelimbungan itu sendiri. Kebahagiaan adalah cita-cita semua manusia. Uniknya semua orang mengatakan ingin hidup dalam kebahagiaan, namun tidak ada yang tahu pasti apa sebenarnya hakikat kebahagiaan itu sendiri. Beberapa di antara kita mengatakan bahwa kebahagiaan adalah ketika seseorang memiliki jabatan tinggi, sedang beberapa yang lain mengatakan kebahagiaan ialah ketika memiliki harta banyak. Orang sakit juga begitu, ia mengatakan jika kebahagiaan adalah kesembuhan, atau bahkan orang yang sedang dirundung penindasan akan mengatakan jika kebahagiaan dalah cinta.
Agaknya pertanyaan yang membawa langkah tak terarah itu menemui jawabannya dalam buku besar Sirrul Asrar, mahakarya kitab tasawuf dari seorang sufi besar abad kesebelas. Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, yang namanya masyhur dalam rangkaian tawassul setelah Kanjeng Nabi Saw itu, membawa saya pada catatan-catatan yang mendalam soal makna bahagia.
Dalam Sirrul Asrar, ada dua golongan manusia yang hidup di dunia. Ia adalah al-Sa’adah (bahagia) dan al-Shaqawah (kesusahan). Kelompok yang berbahagia adalah mereka yang berada di dalam kedamaian dan keimanan. Bahagia mereka dilambangkan dengan berbondong-bondong melakukan ketaatan kepada Allah. Sedangkan kelompok yang kesusahan adalah mereka yang dalam keadaan tidak selamat, mereka adalah orang-orang yang risau atas sebab pengingkarannya terhadap ketentuan-ketentuan Allah.
Konsep ini menegaskan bahwa selama ini yang kita yakini adalah keliru. Kita merasa bahwa ketaatan itu amat sangat berat dikerjakan, sedang menjalani kemaksiatan seperti semudah membalik telapak tangan. Padahal yang berat itu adalah hakikat kebahagiaan, dan kemudahan dalam bermaksiat adalah jalan menuju kerisauan-kerisauan.
Dalam redaksi lain yang tertulis dalam Fath al-Rabbani, Syaikh Abdul Qadir menuliskan “Al-Mu’minu masjunun fiddunya,(…)” seorang mukmin terpenjara di dunia. Teks ini juga menjabarkan dari redaksi hadis sahih riwayat Imam Muslim “Ad-dunya sijnul mu’min wa jannatul kafir,” dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.
Hadis ini bukan menakuti secara pesimistis, ia adalah kisi-kisi dan pelipur akan kefanaan dunia. Bagi seorang mukmin, dunia merupakan penjara karena realitas kehidupan mereka dibatasi oleh struktur syariat dan moralitas yang secara sadar menahan kebebasan hawa nafsu demi mencapai kemerdekaan hakiki di kehidupan abadi kelak. Sebaliknya, bagi orang yang tidak beriman, dunia dianggap sebagai surga karena dimensi materi inilah satu-satunya ruang di mana mereka bisa mengeksploitasi kenikmatan hidup tanpa batas dan pertanggungjawaban transenden.
Sampai sini, boleh kita menghela nafas, melepasnya dengan ucap penuh syukur dan ketangguhan batin. Allah telah menjanjikan imbalan setiap lelah dan segala kesukaran dunia yang kita jalani.
Jalan Menuju Kebahagiaan
Dalam kitab Sirr al-Asrar, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani memaparkan ciri-ciri kebahagiaan itu ada lima, yakni; hati yang lembut (layyinul qalbi), banyak menangis (katsrotul buka’i), zuhud terhadap kemewahan duniawi (zuhdu fi dunya), tidak banyak menghayal (qoshrul amali) dan banyak malu (katsrotul haya’i). Ciri yang demikian tentu merepresentasikan dari bagaimana sebenar-benar tahanan dalam penjara.
Hari ini, perjalanan menapaki jalan kebahagiaan seperti menapak lereng terjal dan licin, lengah sedikit habislah sudah. Kita tak mungkin menolak modernitas, menolak kemajuan, atau bahkan tak mungkin jika harus menyepi antipati dengan realitas hidup ini. Justru menghadapi keniscayaan dunia inilah letak bagaimana tantangan seutuhnya bagi seorang tahanan yang terperdaya. Barangsiapa yang selamat dari godaan, maka berbahagialah ia kelak, namun jika tak bisa menghadapinya, maka bersiaplah kehancuran tengah menanti.
Sederhananya, bukan berhenti menjalani hidup, tapi menahan dari segala keisrafan.
Lantas bagaimana dengan ciri mereka yang akan dirundung kesedihan? Dalam lanjutannya ditulis, mereka yang menerima celaka adalah; hati yang keras (qoswatul qalbi), mata yang tidak pernah menagis (jumudul ‘aini), cinta dunia (roghbatu fi dunya), banyak menghayal (tul al-amali) dan sedikit malu (qillatulhaya’i).
Betapa banyak ciri itu sebetulnya masuk dalam pemberitaan hari-hari yang melelahkan kita. Sebagai contoh, Di era modern, distopia politik paling nyata adalah matinya rasa malu (katsrotul haya’). Kita kerap menyaksikan para koruptor yang tertangkap tangan masih bisa tersenyum lebar, melambaikan tangan ke arah kamera televisi, dan merasionalisasi kejahatan mereka. Hilangnya haya’ membuat kekuasaan kehilangan etika publiknya. Bagi pejabat yang mukmin, rasa malu adalah rem yang paling pakem, ia malu kepada rakyat yang uangnya ia kelola, dan lebih dari itu, ia malu kepada Tuhan jika sepeser pun hak orang miskin masuk ke perut keluarganya.
Korupsi juga bagian dari thulul amal (panjang angan-angan). Mereka mabuk oleh ilusi keabadian, berambisi membangun dinasti politik, memperpanjang masa jabatan, dan menimbun aset seolah-olah mereka tidak akan pernah mati. Sebaliknya, pemimpin yang memiliki qoshrul amali menyadari bahwa jabatannya sangat artifisial dan berbatas waktu. Para koruptor juga seperti pembunuh. Ia adalah bentuk kekerasan struktural. Uang negara yang dikorupsi adalah jalanan berlubang yang memakan korban jiwa, rumah sakit yang tak punya obat, dan anak-anak yang putus sekolah. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang hatinya telah membatu (qaswatul qalb).
Maka benarlah, angan-angan kebahagiaan semacam itu nyatanya semu. Pelan-pelan, kerisauan akan menghampiri dan kebahagiaan itu dicabut begitu saja.
Masih memilih merawat nikmat iman menyimpan konsekuensi jika perjalanan hidup harus dihadapi dengan banyak kekuatan dan ketabahan. Kebahagiaan sejati ternyata harus dibayar tuntas dengan pendakian-pendakian yang terjal. Kita mungkin tidak harus seperti para sufi yang benar-benar menghukum dirinya dari dunia, cukup seperti apa yang tertulis dalam Sirrul Asrar; bersikap berintegritas, punya malu, sering menangisi dosa, dan mensyukuri porsi dunia yang diberikan. Masih ada waktu untuk berbenah, innallaha yuhibbu al-tawwabina wa yuhibbu al-mutathahhirin.
Rujukan:
-Abdul Qadir al-Jilani. Sirr Al-Asrar. Edited by Moh. Yusni Amru Ghozaly. Cairo: al-Bahiyyah al-Mishriyyah.
*Wardah Nailul Qudsiyah, santri dan akademisi, lulusan Sarjana Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Magister Studi Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.