Kemerdekaan Yang Belum Selesai: Menziarahi Jejak Perjuangan Ulama dan Santri
Bulan Agustus adalah bulan yang sangat Istimewa bagi Rakyat Indonesia, kata “Merdeka” selalu kita dengar dan kita baca di berbagai tempat. Kata “Merdeka” berasal dari Bahasa Sanskerta yaitu “Mahardika” yang berarti kaya, kuat dan bebas dari segala belenggu. Secara etimologi, Merdeka juga berasal dari Bahasa Belanda yang kurang tepat dalam menyerap Bahasa Portugis, yaitu “Mardijkers”. Mardijkers pada masanyadigunakan untuk menyebut mantan budak atau budak yang sudah merdeka. Secara terminologi “Merdeka” berarti bebas dari segala penjajah dan penjajahan.
Berbicara tentang Kemerdekaan Republik Indonesia, bukan hanya merujuk pada peristiwa proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Pada hakikatnya, Kemerdekaan Republik Indonesia meliputi 4 masa perjuangan, yaitu; 1) Masa perjuangan untuk merdeka, 2) Masa perjuangan proklamasi, 3) Masa mempertahankan kemerdekaan, dan 4) Masa mengisi kemerdekaan. Dari ke-4 masa tersebut, Santri dan Ulama selalu hadir dan selalu mengambil peran penting dalam setiap rangkaian perjuangan-perjuangan hebat.
Pertama adalah masa perjuangan untuk Merdeka. Pada masa ini, ada banyak ulama dan santri yang pergi berhaji ke tanah suci, sembari menunaikan rukun islam yang kelima ini, mereka banyak melakukan diskusi dengan para ulama dari berbagai pelosok negeri yang juga sedang melakukan ibadah haji. Ilmu dan kesemangatan yang mereka dapat dalam berdiskusi menjadi bekal berharga untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, beliau adalah ketua dari Central Syarikat Islam yang dengan lantang dan gagah berpidato pada kongres nasional pertama di Bandung (1916), beliau membakar kesemangatan anak bangsa untuk menciptakan pemerintahan yang mandiri. Kongres ini dihadiri sekitar 800.000 pemuda dan tokoh bangsa, pidato ini menjadi dasar tonggak kuat bangsa Indonesia untuk mengutarakan kesemangatan dan keinginannya secara terbuka kepada pemerintah Hindia-Belanda dengan tujuan mendirikan pemerintahan yang berdikari. Dengan pidatonya, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto mampu menumbuhkan semangat pemuda bangsa untuk mendirikan negaranya sendiri
Kedua, Masa perjuangan proklamasi. Pada masa ini santri juga memiliki peran penting untuk mewujudkan cita-cita besar untuk merdeka, salah satu dari santri yang sangat dikenang adalah anak dari ulama besar KH Hasyim Asy’ari, santri tersebut adalah KH Wahid Hasyim. Beliau memiliki andil penting dalam urusan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibentuk pada 1 Maret 1945, 5 bulan sebelum proklamasi. BPUPKI ini kemudian berubah menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 7 Agustus 1945, 10 hari menjelang proklamasi. KH Wahid Hasyim memiliki peran penting dalam berbagai proses persiapan kemerdekaan tersebut, diantaranya adalah perumusan dasar negara dan pembentukan piagam Jakarta yang menjadi cikal bakal terbentuknya Pancasila, hingga akhirnya proklamasi dibacakan dengan gagah dan lantang oleh sang proklamator, Bapak Presiden Ir. Soekarno. Peran penting KH Wahid Hasyim menunjukkan bahwa santri tidak hanya berperan dalam medan perang, tetapi juga turut berperan penting dalam hal pemikiran.
Ketiga, masa mempertahankan kemerdekaan. Setelah proklamasi dibacakan dengan gagah, ternyata masih banyak penjajah yang berusaha untuk datang dan menjajah kembali negara yang baru lahir ini. Dalam situasi ini, lagi-lagi santri dan ulama turut andil untuk memperjuangkan kedaulatan negaranya. Salah satu sejarah besar para ulama dan santri dalam masa ini adalah fatwa “Resolusi Jihad”. Sebelum adanya fatwa Resolusi Jihad ini, Bung Karno sebagai presiden berpikir keras siang dan malam untuk mempertimbangkan perang dengan tentara sekutu. karena secara matematis masyarakat Indonesia tidak akan mampu melawan tentara sekutu yang dilengkapi dengan berbagai senjata modern yang sangat canggih. Atas saran panglima jendral soedirman, Soekarno diminta untuk datang kepada KH Hasyim Asy’ari di pondok Tebu Ireng guna meminta rumusan fatwa hukum dalam membela negara. Dari situlah akhirnya para kiai dan santri pulau Jawa-Madura berkumpul dan bermusyawarah. Dengan segala kesemangatan yang membara serta disertai istikharah, para ulama dan santri memohon petunjuk Allah SWT, hingga lahirlah fatwa “Resolusi Jihad” pada tanggal 22 Oktober 1945 yang berisikan:
- Setiap muslim tua, muda, dan miskin sekalipun wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia
- Pejuang yang mati dalam membela kemerdekaan Indonesia layak dianggap Syuhada’
- Warga yang memihak kepada Belanda, dianggap memecah-belah persatuan. Dan oleh karena itu, layak dihukum mati
Fatwa resolusi jihad ini menjadi cikal bakal bangkitnya kesemangatan perlawanan rakyat hingga terjadi peristiwa heroik 10 November di Surabaya. Peristiwa heroik ini kita kenal sebagai “hari pahlawan” Di mana lantunan “Allahu Akbar, Allah Akbar, Allahu Akbar” bergema di setiap sudut kota Surabaya untuk membangkitkan tekat dan semangat perjuangan melawan penjajah. Berkat usaha para pahlawan, usaha para ulama, para santri dan masyarakat, serta berkat pertolongan Allah SWT sekutu dapat dilumpuhkan.
Masa terakhir adalah masa mengisi kemerdekaan, jikalau tadi kita mempelajari bagaimana perjuangan para santri dan ulama pendahulu, maka selanjutnya adalah tugas kita dalam mengisi kemerdekaan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju dan berwibawa di kancah internasional. Kemerdekaan masih menyisakan banyak ruang perjuangan yang bisa kita isi. Dalam mengisi perjuangan ini, kita perlu mempersiapkan diri, memantaskan diri, meningkatkan kualitas keilmuan, memperbaiki akhlak, dan tentunya membangun kesadaran dalam diri kita bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab besar dalam perkembangan bangsa. Semangat perjuangan para pendahulu dapat kita serap dan kita kembangkan untuk bekal perjuangan. Ada sebuah ungkapan yang sangat populer untuk kita jadikan bekal perjuangan, ungkapan tersebut adalah “Hubbul Wathan Minal Iman”
حب الوطن من الإيمان
“Cinta tanah air, bagian dari iman”
Pesan moral dari ungkapan di atas, dapat kita jadikan seruan untuk bersama-sama mencintai tanah air yang sudah diperjuangkan oleh para pendahulu. Kecintaan terhadap tanah air harus kita wujudkan dalam bentuk aksi nyata sesuai dengan bidang kita masing-masing. Dalam hal ini, Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 122 memberikan kita pandangan dalam berjuang dalam bidang masing-masing:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Artinya: “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya”
Surat At Taubah Ayat 122 menjelaskan bahwa tidak semua orang mukmin harus berjihad di medan perang, akan tetapi perlu ada para penuntut ilmu yang kelak akan memberikan mereka pencerahan serta nasihat. Dari ayat ini kita mengerti bahwa menuntut ilmu dengan niat mencerahkan kehidupan bangsa sama derajatnya dengan berjihad di medan perang. Ayat tersebut juga mengajarkan bahwa kita perlu fokus pada bidang masing-masing guna membentuk kolaborasi perjuangan yang dahsyat untuk kemajuan bersama. Para pendahulu kita sudah mengambil peran yang sangat hebat, maka saat ini adalah waktu kita untuk mengambil peran yang hebat juga. Selamat berjuang untuk kita!
*Qoidy Hilman Hindami, M.Pd. (Dosen Ibama Probolinggo)