Sebenar-benar Asfala Safilin
Hampir setiap kali kita membuka layar gawai hari ini, ada saja kabar tentang pejabat yang mengenakan rompi oranye. Mereka keluar dari gedung komisi antirasuah, menunduk, atau kadang justru tersenyum melambaikan tangan ke arah kamera seolah sedang berada di karpet merah. Publik mengutuk, media meramaikan, lalu selang beberapa minggu, kita melupakannya karena tertimpa kasus korupsi pejabat lain yang angkanya jauh lebih fantastis.
Kita sering kali berhenti pada kemarahan hukum atau politik. Kita menghitung berapa triliun kerugian negara, atau berapa tahun hukuman yang pantas. Namun, jika kita sejenak menarik napas panjang, menepi ke sudut zawiyah batin kita, dan melihat fenomena ini dengan kacamata kesufian yang membumi, kita sedang menyaksikan sebuah tragedi eksistensial yang mengerikan.
Kita sedang melihat demonstrasi paling nyata dari apa yang disebut dalam teks klasik sebagai Asfala Safilin, tempat atau derajat yang paling rendah dari yang serendah-rendahnya.
Tuhan menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk dan takaran yang paling sempurna (Ahsani Taqwim). Kesempurnaan ini bukan semata-mata menunjuk pada proporsi fisik biologis, karena kalau sekadar adu kuat, gajah jauh lebih perkasa, kalau sekadar adu cepat, cheetah tidak tertandingi. Kesempurnaan manusia terletak pada perangkat lunak ruhaniahnya, akal, hati nurani, dan kemampuannya untuk mengelola bumi dengan prinsip keadilan.
Tuhan membanting keras, tsumma radadnahu asfala safilin, antitesis paling satire pada pujian ahsani taqwim. Secara semantik, asfala berarti “yang paling bawah”, dan safilin adalah bentuk jamak dari mereka yang berada di bawah. Kita tidak berbicara sekadar jatuh ke bawah, Tuhan sedang mengkiaskan dengan bahasa tersantunnya bahwa kita makhluk jatuh martabat, runtuh nilai, dan terdegradasi maqam atas segala akibat-akibat insting kita yang jauh lebih keji dari kebuasan hewan.
Hewan memangsa hewan lain semata-mata karena lapar dan untuk bertahan hidup. Insting mereka punya batas. Harimau yang perutnya kenyang tidak akan memburu rusa yang lewat di depannya.
Lalu, bagaimana dengan manusia?
Inilah ironinya. Para pejabat yang tertangkap adalah sederet orang yang kenyang.. Mereka adalah manusia-manusia yang sudah sangat selesai dengan urusan perutnya. Mereka memiliki rumah mewah, mobil berderet, fasilitas negara, dan tabungan yang tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Tapi semua belum memuaskan dahaga sedekat kerongkonan.
Ia mengira dengan menumpuk kekayaan dari hasil rasuah, ia sedang membangun kemuliaan. Padahal, setiap rupiah uang haram yang ditelannya justru sedang menggerogoti bangunan kemanusiaannya sendiri. Secara sosial ia mungkin terlihat sedang berada di puncak hierarki (punya kuasa, dihormati, dikawal ajudan), tetapi secara ruhaniah, ia benar Asfala Safilin.
Koruptor terjebak dalam Baqa’ (keabadian semu) pada egonya sendiri. Ia merasa bahwa dengan memperkaya diri secara culas, ia akan mengamankan masa depan, melindungi keluarganya, dan membeli kehormatan. Ia lupa bahwa kehormatan tidak pernah bisa ditransaksikan dengan materi.
Sejarah telah berkali-kali membuktikan hukum keseimbangan alam. Uang hasil memakan hak orang banyak (yatim, piatu, rakyat miskin) selalu membawa energi panas yang akan membakar pemiliknya sendiri, baik cepat atau lambat. Kalaupun mereka lolos dari jerat hukum negara (karena mungkin sistemnya bisa dibeli), mereka tidak akan pernah lolos dari pengadilan batin. Kecemasan, ketidaktenangan keluarga, dan hilangnya keberkahan hidup adalah ongkos instan yang langsung dibayar tunai di dunia.
Menuju penutup, tentu, sebagian besar dari kita mungkin tidak memiliki kesempatan untuk mengkorupsi anggaran negara triliunan rupiah. Kita bukan pejabat pembuat kebijakan. Namun, godaan untuk jatuh ke jurang Asfala Safilin mengintai kita setiap hari dalam skala yang lebih kecil.
Pertanyaan esensialnya, apakah di level keseharian, kita sudah menjaga diri kita agar tidak jatuh?
Ketika kita memotong antrean orang lain semata-mata karena kita sedang buru-buru, itu adalah embrio dari korupsi hak. Ketika kita mencuri jam kerja di kantor untuk urusan pribadi yang tidak penting, itu adalah korupsi waktu. Ketika kita sebagai pengusaha kecil mengurangi takaran timbangan jualan kita demi untung seribu-dua ribu rupiah, kita sedang melatih mentalitas Asfala Safilin tersebut.
Skala materinya mungkin berbeda jauh dengan sang menteri atau pejabat tinggi, tetapi akar penyakit ruhaniahnya persis sama, keserakahan, menumpulkan hati nurani, dan membenarkan cara yang salah demi keuntungan diri sendiri. Jika kita membiarkan kebohongan-kebohongan kecil ini terus hidup di keseharian kita, jangan-jangan kita tidak korupsi miliaran rupiah semata-mata karena kita tidak punya kesempatannya saja, bukan karena kita menolaknya secara moral.
Kepada mereka yang masih terus menumpuk kekayaan dengan cara merampas hak sesama, dan kepada diri kita sendiri yang sering kali tersesat oleh gemerlap dunia, Fa aina tadzhabun?
Madiun, 11 Juli 2026
Pimred