Membaca Ulang Sejarah Sarjana: Refleksi Buat Kita

WhatsApp-Image-2024-05-31-at-2.29.00-PM

Melihat maraknya sertifikasi keilmuan berlabel sarjana hari ini, ada banyak pertanyaan yang sering dilupakan, sejak kapan sih gelar sarjana ada? Mengapa sarjana harus ada? Apakah Plato dan Aristoteles pernah menjadi sarjana? Bagaimana universitas melahirkan sistem gelar akademik yang masih digunakan hingga sekarang?

Sejarah sarjana ternyata jauh lebih panjang daripada sejarah universitas modern. Ia lahir dari perkembangan tradisi intelektual Yunani, diwarisi dunia Islam, kemudian dilembagakan oleh universitas-universitas Eropa abad pertengahan. Perjalanan panjang itu membentuk sistem pendidikan tinggi yang kita kenal sekarang.

Sejarah Mula Pendidikan di Yunani Kuno

Jika berbicara tentang pendidikan tinggi, kebanyakan orang langsung mengingat Yunani Kuno. Di sanalah muncul tokoh-tokoh besar seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles. Akan tetapi, mereka belum mengenal istilah “sarjana” sebagaimana sekarang.

Sekitar abad ke-4 SM, Plato mendirikan Akademia di Athena. Tempat ini menjadi pusat diskusi filsafat, matematika, astronomi, dan politik. Murid-murid datang untuk belajar langsung kepada para filsuf, bukan untuk memperoleh ijazah atau gelar. Yang dihargai adalah kemampuan berpikir, bukan sertifikat.

Beberapa dekade kemudian Aristoteles mendirikan Lyceum. Model pembelajarannya bahkan lebih sistematis. Ia mengembangkan penelitian empiris, pengumpulan data, hingga klasifikasi ilmu pengetahuan. Banyak sejarawan menyebut Lyceum sebagai cikal bakal universitas riset modern.

Tradisi Pendidikan di Dunia Islam

Ketika Eropa mengalami masa awal abad pertengahan, dunia Islam justru mengalami perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Sejak abad ke-8, berdiri berbagai pusat pembelajaran seperti Bayt al-Hikmah di Baghdad. Para ilmuwan menerjemahkan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab sekaligus mengembangkannya lebih jauh. Bidang kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, hingga optika berkembang luar biasa.

Pada abad ke-9 hingga ke-10 muncul madrasah-madrasah besar yang mengajarkan ilmu agama maupun ilmu rasional. Salah satu institusi pendidikan tertua di dunia adalah Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, yang berdiri pada tahun 859 M. UNESCO maupun Guinness World Records mengakuinya sebagai universitas tertua yang masih beroperasi. Namun, seperti tradisi Yunani, dunia Islam juga belum mengenal gelar “Bachelor”. Yang diberikan adalah ijazah.

Menariknya, kata “ijazah” berasal dari bahasa Arab ijazah, yaitu izin mengajar atau mengajarkan kembali suatu kitab setelah murid dinilai menguasai materi oleh gurunya. Sistem ini bersifat personal. Otoritas ilmu berasal dari guru, bukan dari institusi semata.

Sejarawan George Makdisi bahkan berpendapat bahwa konsep lisensi mengajar di dunia Islam memberi pengaruh terhadap perkembangan universitas Eropa, sebagaimana ia jelaskan dalam bukunya The Rise of Colleges.

Lahirnya Universitas di Eropa

Universitas pertama di Eropa muncul sekitar abad ke-11 dan ke-12. Universitas Bologna (1088) di Italia biasanya dianggap sebagai universitas tertua di Eropa. Disusul Universitas Oxford, Universitas Paris, dan Universitas Cambridge.

Kata universitas sendiri berasal dari bahasa Latin universitas magistrorum et scholarium, yang berarti komunitas para guru dan murid. Pada masa inilah sistem pendidikan mulai memiliki jenjang yang lebih jelas. Mahasiswa harus mempelajari trivium, yaitu:

  • tata bahasa (grammar),
  • logika,
  • retorika.

Setelah itu mereka melanjutkan ke quadrivium:

  • aritmetika,
  • geometri,
  • musik,
  • astronomi.

Gabungan keduanya dikenal sebagai Seven Liberal Arts. Setelah menyelesaikan tahap dasar tersebut, mahasiswa dapat melanjutkan ke bidang hukum, kedokteran, atau teologi.

Dari Mana Asal Gelar Bachelor?

Istilah Bachelor berasal dari bahasa Latin abad pertengahan baccalarius.

Asal-usul katanya masih diperdebatkan. Sebagian ahli bahasa menghubungkannya dengan istilah untuk pemuda yang sedang menjalani latihan menjadi ksatria. Lambat laun kata tersebut digunakan untuk mahasiswa yang telah menyelesaikan tahap pendidikan dasar tetapi belum mencapai tingkat magister.

Oxford English Dictionary menjelaskan bahwa pada abad ke-13 istilah bachelor mulai digunakan secara resmi dalam dunia akademik. Artinya, seorang Bachelor bukanlah ilmuwan paling tinggi, melainkan seseorang yang telah memenuhi syarat memasuki studi lanjutan.

Dalam sistem universitas abad pertengahan urutannya adalah:

  • Bachelor
  • Master
  • Doctor

Struktur ini masih dipakai hingga hari ini di banyak negara.

Mengapa Disebut Sarjana?

Di Indonesia, istilah “sarjana” berbeda dengan “Bachelor”, meskipun keduanya sekarang dianggap setara. Kata sarjana berasal dari bahasa Sanskerta śāstrajña.

Secara harfiah:

  • śāstra berarti ilmu atau kitab,
  • jña berarti orang yang mengetahui.

Jadi, sarjana berarti orang yang memahami ilmu pengetahuan. Istilah ini sebenarnya telah dikenal jauh sebelum Indonesia memiliki universitas modern. Dalam berbagai naskah Jawa Kuno maupun tradisi Hindu-Buddha, kata serupa digunakan untuk menyebut orang yang menguasai pengetahuan.

Ketika sistem pendidikan tinggi Indonesia berkembang pada masa kolonial dan setelah kemerdekaan, istilah “sarjana” dipilih sebagai padanan resmi untuk Bachelor. Pilihan ini menunjukkan usaha menggabungkan sistem pendidikan Barat dengan kosakata Nusantara yang berakar pada bahasa Sanskerta.

Mengapa Bachelor Berbeda dengan Master?

Banyak orang mengira Bachelor berarti “tingkat pertama” tanpa alasan historis. Padahal, pembagian ini lahir dari struktur pendidikan abad pertengahan.

Bachelor menunjukkan bahwa seseorang telah menguasai dasar-dasar ilmu. Master berarti ia telah memiliki kewenangan mengajar. Doctor menunjukkan penguasaan tertinggi pada bidang tertentu.

Pada awalnya, gelar Master bahkan lebih penting daripada Doctor dalam banyak universitas Eropa. Baru kemudian gelar doktor menjadi puncak pendidikan akademik.

Perubahan tersebut berlangsung perlahan selama beberapa abad seiring berkembangnya penelitian ilmiah.

Revolusi Universitas Modern

Memasuki abad ke-19, universitas mengalami perubahan besar. Wilhelm von Humboldt mendirikan Universitas Berlin pada tahun 1810 dengan konsep baru.

Ia menekankan bahwa universitas tidak cukup hanya mengajar. Universitas harus menghasilkan pengetahuan baru melalui penelitian. Model Humboldt kemudian menjadi dasar universitas riset modern di seluruh dunia. Mahasiswa tidak lagi sekadar menghafal buku, tetapi juga belajar melakukan penelitian, eksperimen, observasi, hingga publikasi ilmiah. Konsep ini akhirnya memengaruhi hampir seluruh sistem pendidikan tinggi global.

Perkembangan Gelar Sarjana di Indonesia

Pendidikan tinggi Indonesia bermula pada masa kolonial Belanda. Beberapa sekolah tinggi didirikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga profesional kolonial, seperti; STOVIA untuk pendidikan dokter, Rechtshoogeschool untuk hukum, Technische Hoogeschool te Bandoeng yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung.

Setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia mengembangkan sistem universitas nasional. Muncullah pembagian Diploma, Sarjana (S1), Magister (S2), Doktor (S3). Sistem tersebut kemudian disesuaikan dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) agar setara dengan standar internasional.

Mengapa Gelar Sarjana Semakin Penting?

Pada abad pertengahan, jumlah mahasiswa sangat sedikit. Hanya kalangan tertentu yang mampu mengakses universitas.

Kini kondisinya berubah drastis. Pendidikan tinggi menjadi bagian dari pembangunan ekonomi, inovasi teknologi, dan mobilitas sosial. Banyak perusahaan menjadikan gelar sarjana sebagai syarat administratif karena dianggap menunjukkan kemampuan berpikir sistematis, literasi akademik, dan kompetensi profesional. Namun demikian, para ahli pendidikan juga mengingatkan bahwa gelar tidak selalu identik dengan kompetensi nyata. Kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, dan pembelajaran sepanjang hayat justru semakin menentukan di era digital.

Apakah Sarjana Masih Relevan di Era AI?

Perkembangan kecerdasan buatan memunculkan pertanyaan baru mengenai masa depan gelar sarjana.

Banyak pekerjaan administratif mulai diotomatisasi. Informasi ilmiah juga semakin mudah diakses melalui internet. Akibatnya, sebagian orang mempertanyakan apakah kuliah empat tahun masih diperlukan.

Jawabannya bergantung pada cara memandang pendidikan tinggi.

Jika universitas hanya menjadi tempat memperoleh ijazah, maka nilai gelar memang dapat berkurang. Akan tetapi, bila universitas dipahami sebagai ruang membangun kemampuan berpikir analitis, menyusun argumen, melakukan penelitian, serta bekerja sama lintas disiplin, maka relevansinya tetap kuat.

Bahkan di era AI, kemampuan mengevaluasi informasi, memahami konteks sosial, dan mengambil keputusan etis menjadi semakin penting. Mesin dapat membantu mengolah data, tetapi manusia tetap memegang peran dalam menafsirkan makna, merumuskan kebijakan, dan menciptakan inovasi.

Karena itu, tantangan universitas masa kini bukan sekadar meluluskan lebih banyak sarjana, melainkan menghasilkan lulusan yang mampu belajar sepanjang hayat dan beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Perjalanan sejarah sarjana memperlihatkan bahwa gelar akademik bukanlah tradisi yang muncul begitu saja. Ia merupakan hasil perjalanan panjang peradaban manusia. Tradisi filsafat Yunani menanamkan semangat pencarian ilmu. Dunia Islam mengembangkan sistem transmisi pengetahuan melalui ijazah dan lembaga pendidikan. Universitas Eropa kemudian membakukan jenjang Bachelor, Master, dan Doctor, sementara Indonesia mengadaptasinya menjadi sistem Sarjana, Magister, dan Doktor.

Memahami sejarah ini membantu kita melihat bahwa nilai seorang sarjana tidak hanya terletak pada selembar ijazah. Sejak awal, pendidikan tinggi bertujuan membentuk manusia yang mampu berpikir jernih, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Gelar hanyalah penanda formal, substansi sesungguhnya terletak pada tradisi intelektual yang terus hidup di baliknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *