Berhutang Pada Tanah

WhatsApp Image 2026-07-25 at 2.21.19 PM

Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita, melainkan meminjamnya dari anak cucu kita.

Kita hidup di sebuah zaman di mana segala sesuatu diukur dari nilai ekonomisnya. Gunung dilihat sebagai tumpukan mineral yang siap dikeruk. Hutan dipandang sebagai deretan kayu yang menunggu diubah menjadi komoditas. Sungai, yang dulunya dianggap sebagai urat nadi peradaban, kini hanya dilihat sebagai saluran pembuangan limbah industri raksasa.

Kita ini suka dengan istilah kemajuan. Tapi benarkah kita sedang maju? Atau justru kita sedang berlari terengah-engah menuju kebangkrutan ekologis dan spiritual?

Dalam tradisi kosmologi berbagai bangsa, termasuk tradisi spiritualitas Nusantara dan kearifan Islam, tanah sering dikonseptualisasikan sebagai “Ibu”. Dari tanahlah makanan kita tumbuh. Di atas tanahlah rumah kita dibangun. Dan ke dalam tanah pulalah tubuh kita akan dikembalikan kelak.

Hubungan manusia dengan tanah sejatinya adalah hubungan yang sakral, resiprokal, dan penuh kasih sayang. Kita merawat tanah, dan tanah merawat kita.

Namun, modernitas, dengan mesin-mesin kapitalisme globalnya, telah mendekonstruksi kesakralan itu. Tanah direduksi menjadi sekadar “aset”. Ia dipetakan, dipatok, diperjualbelikan, dan dieksploitasi hingga ke tetes darah terakhirnya.

Hari ini satu per satu fakta terpampang. Keuntungan yang diperoleh dari eksploitasi itu seringkali hanya dinikmati oleh segelintir elite di menara gading. Sementara itu, wong cilik (para petani, masyarakat adat, nelayan) yang menggantungkan hidupnya pada harmoni alam, dipaksa menanggung beban dari rusaknya siklus alam tersebut.

Hari ini kita hidup dalam alienasi ekologis. Masyarakat modern hari ini telah menjadi asing dengan sumber kehidupannya sendiri.

Berapa banyak dari anak-anak kota saat ini yang tahu dari mana asal beras yang ada di piring mereka? Berapa banyak yang pernah merasakan tanah basah di sela-sela jari kaki mereka setelah hujan? Kita hidup di dalam kotak-kotak beton bertingkat, bekerja di bawah cahaya neon artifisial, dan bernapas dengan udara yang disaring oleh pendingin ruangan.

Kita memutus koneksi batiniah kita dengan alam.

Ketika kita tidak lagi memiliki hubungan emosional dan spiritual dengan tanah, pegunungan, dan sungai, maka menghancurkan mereka menjadi sebuah hal yang mudah dilakukan tanpa rasa bersalah. Kita merasa sah-sah saja membuang sampah sembarangan atau menggunakan produk-produk yang tidak ramah lingkungan, karena kita merasa alam adalah entitas yang terpisah dari diri kita.

Padahal, dalam laku kesufian, alam semesta ini adalah Tajalli, manifestasi atau penampakan dari asma dan sifat-sifat Tuhan. Merusak alam berarti merusak ayat-ayat kauniyah Tuhan yang terhampar di alam semesta. Bagaimana mungkin kita mengaku mencintai Sang Pencipta, sementara kita dengan sadar ikut menghancurkan ciptaan-Nya?

Hutang kita pada tanah tidak bisa dibayar dengan mata uang apa pun. Ia hanya bisa dibayar dengan perubahan cara pandang yang radikal. Kita harus berhenti melihat diri kita sebagai penakluk alam, dan mulai menyadari posisi kita sebagai bagian dari alam itu sendiri.

Tuhan menunjuk manusia sebagai Khalifah fil Ardh. Namun, posisi khalifah ini bukanlah mandat untuk berbuat semena-mena. Ini adalah sebuah amanah yang sangat berat. Khalifah sejati adalah mereka yang memelihara keseimbangan, merawat kelestarian, dan memastikan keadilan distribusi bagi seluruh makhluk hidup, bukan hanya manusia.

Laku ini menuntut kita untuk menyingkirkan ego kita. Kita perlu belajar untuk mengerem laju konsumsi kita yang rakus. Kita perlu belajar bahwa kesejahteraan tidak harus identik dengan akumulasi materi tanpa batas. Ada kebahagiaan yang jauh lebih mendalam dalam kesederhanaan, dalam harmoni dengan ritme alam, dan dalam kesadaran bahwa setiap tindakan kecil kita berdampak pada jaring-jaring kehidupan yang lebih besar.

Mari kita sejenak menarik diri dari keriuhan dan menundukkan kepala. Mari kita renungkan kembali jejak ekologis yang telah kita tinggalkan di atas bumi ini. Mari kita memulihkan kembali hubungan batin kita dengan tanah. Sebab jika kita menolak untuk membayar hutang kasih sayang ini sekarang, alam sendirilah yang akan menagihnya nanti dengan cara yang sangat menyakitkan.

Dengan segenap anugerah kehidupan dari Dzat yang Maha Welas Asih ini, Yaa ayyuhal insaanu maa gharraka birabbikal kariim? Hai manusia, apa sebenarnya yang telah membuatmu durhaka terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *