Menaiki Bahtera Nuh Lagi
Zaman modern ini menjanjikan kecepatan, efisiensi, dan kelimpahan materi. Kita dikepung oleh kemudahan teknologi. Namun ironisnya, di tengah kelimpahan itu, jiwa manusia justru sedang mengalami kemarau panjang. Struktur sosial kita hari ini dirancang sedemikian rupa agar kita terus memproduksi dan mengonsumsi tanpa henti, menciptakan mesin-mesin ekonomi yang menggerus ikatan-ikatan sosial tradisional.
Inilah yang sering melahirkan rasa keterasingan massal. Kita terkoneksi dengan ribuan orang di media sosial, tetapi kita merasa sangat sendirian di kamar kita pada pukul dua dini hari. Kita berlari mengejar karir, validasi, dan angka-angka subscribers atau saldo bank, tetapi ketika kita mencapainya, yang kita rasakan hanyalah ruang hampa.
Banjir hari ini adalah banjir informasi yang membuat kita rabun melihat kebenaran. Badai hari ini adalah tumpukan pekerjaan yang membuat kita lupa caranya bercakap-cakap dengan Tuhan dan diri sendiri. Arus pusaran airnya adalah gaya hidup konsumtif yang menyedot kita ke dasar hutang, stres, dan kecemasan mental.
Tanpa kita sadari, air bah nirmakna itu sudah menggenang setinggi leher. Banyak di antara kita yang sudah tenggelam, megap-megap mencari pegangan berupa validasi dari orang-orang yang sebenarnya tidak peduli pada kita. Jika kita tidak segera membangun “bahtera”, kita akan ikut hanyut dalam arus kegilaan zaman ini.
Hikayat Nuh adalah cambuk dan uswah. Ia melakoni laku spiritual dan sosiologis bersamaan, menghadapi derasnya ancaman dan cemoohan. Ia merakit kapal justru ketika langit sedang cerah dan daratan sedang kering kerontang. Apa reaksi masyarakat saat itu? Mereka tertawa. Mereka mencibir. Mereka menganggap Nuh sudah gila.
Hari ini, membangun bahtera berarti berani mengambil langkah yang berlawanan dengan arus utama. Membangun bahtera berarti berani memilih untuk berjalan pelan, mengerem keinginan, dan merayakan kesederhanaan.
Membangun bahtera adalah mengejawantah hidup dengan mengeliminasi hidup itu pula. Kita menyortir apa yang benar-benar penting bagi jiwa kita, dan membuang ornamen-ornamen palsu yang hanya memberatkan pikiran.
Tentu saja, laku ini akan ditertawakan.
Mereka yang memilih untuk tidak ikut-ikutan tren yang merusak moral akan dicap “kolot”, “ketinggalan zaman”, atau “tidak asyik”. Mereka yang memilih membangun ruang-ruang literasi, ruang-ruang pemikiran, atau majelis-majelis kecil yang membahas ilmu kehidupan akan dianggap melakukan pekerjaan yang tidak menghasilkan cuan. Padahal, justru ruang-ruang kultural dan intelektual itulah papan-papan kayu yang sedang kita rakit untuk menyelamatkan kewarasan kita.
Beruzlah adalah menaiki bahtera Nuh lagi. Uzlah tak harus duduk menghabiskan hidup hanya di atas sajadah. Ia juga tidak harus dimaknai secara harfiah dengan lari ke gua di atas gunung. Uzlah adalah sebuah strategi kebudayaan.
Dalam hikayat Nuh juga, ada Kan’an, secuil kisah ironi yang juga menjadi ibrah kita sampai hari ini. Ketika air bah mulai menenggelamkan daratan, Nuh memanggil anaknya dengan penuh cinta. Namun Kan’an menolak ajakan cinta itu dan memilih jalan hidup dengan egonya sendiri.
Kan’an adalah representasi sempurna dari kecongkakan rasionalitas manusia modern. Ia mengira bahwa puncak-puncak pencapaian material gunung kekayaan, gunung kekuasaan, gunung popularitas, atau gunung teknologi akan mampu menyelamatkannya dari krisis makna hidup.
Berapa banyak dari kita yang bersikap seperti Kan’an hari ini? Ketika badai depresi, kekosongan jiwa, dan krisis identitas datang menerjang, kita justru lari mencari pelarian pada puncak-puncak duniawi. Kita membeli barang-barang mewah untuk menyembuhkan luka batin. Kita mencari kekuasaan yang lebih tinggi agar merasa aman.
Padahal, gunung sehebat apa pun akan tetap tenggelam oleh tatanan yang rusak. Struktur kekuasaan dan uang tidak pernah diciptakan untuk menyembuhkan jiwa manusia. Ia hanya menunda rasa sakit sebentar, untuk kemudian menenggelamkan kita lebih dalam.
Pada akhirnya, tulisan ini adalah sebuah undangan untuk diri kita sendiri. Badai nirmakna di luar sana tidak akan pernah berhenti. Algoritma akan terus memancing kemarahan kita, industri akan terus mengeksploitasi ketakutan kita, dan tren akan terus membuat kita merasa kurang. Kita tidak bisa menghentikan hujan badainya, tetapi kita memiliki kedaulatan penuh untuk menaiki bahtera.
Mari mulai memilah mana urusan yang benar-benar sejati dan mana yang sekadar remah-remah ilusi zaman. Mari rajut kembali nilai-nilai persaudaraan, kearifan lokal, pembacaan atas sejarah dan struktur sosial kita, lalu bungkus semuanya dalam kepasrahan total kepada Yang Maha Memiliki Skenario.
Jika kita merawat “bahtera-bahtera kecil” di dalam keluarga dan komunitas kita, maka gelombang fitnah akhir zaman setinggi apa pun hanya akan menjadi ombak yang mengantarkan kita pada dermaga kedewasaan spiritual. Biarkan mereka di luar sana ribut bertengkar memperebutkan buih. Di dalam bahtera kesadaran ini, kita memilih diam, merawat kepekaan, dan terus menenun makna.
Sebab, tidakkah kita lelah terus-menerus diseret oleh arus kebingungan massa? Kepada hati nurani yang perlahan mulai menyadari betapa rapuhnya berhala-berhala modernitas ini, semesta menanti keputusan kita. Kata Tuhan jelas, “alaisa minkum rajulun rasyid?”