Bebas Buta Huruf, Terjebak Buta Nalar: Menggugat Krisis Kognitif di Balik Angka Statistik

pngtree-very-long-library-with-many-shelves-and-chairs-picture-image_3388216

3. Realisme Kapitalis dan Kelelahan Kognitif

Mengapa masyarakat kita kehilangan hasrat untuk menalar secara mendalam? Jawabannya tidak bisa semata-mata dibebankan pada “kemalasan individu”. Ada struktur ekonomi-politik raksasa yang mendikte perilaku ini.

Kita hidup di tengah lanskap yang sering dikritik sebagai bentuk nyata dari realisme kapitalis, sebuah kondisi di mana segala aspek kehidupan, termasuk waktu luang dan perhatian (atensi), dikomodifikasi untuk melayani ritme produksi dan konsumsi yang tak kenal henti. Manusia modern bekerja dengan jam kerja yang panjang, menghadapi kemacetan berjam-jam, dan berhadapan dengan kecemasan finansial yang permanen.

Dalam kondisi psikologis yang kelelahan dan teralienasi dari kehidupannya sendiri ini, kapasitas kognitif untuk berpikir kritis terkuras habis. Otak manusia secara evolusioner akan mencari jalan pintas untuk menghemat energi. Membaca esai panjang yang analitis, membedah jurnal, atau berdebat secara dialektis membutuhkan kalori kognitif yang besar. Sebaliknya, menonton video berdurasi lima belas detik yang menawarkan kesimpulan hitam-putih, atau membaca utas singkat yang mengonfirmasi bias pribadi, jauh lebih mudah dikonsumsi.

Struktur masyarakat kita mendikte bahwa “berpikir lambat” adalah sesuatu yang tidak efisien. Segalanya menuntut TL;DR (Too Long; Didn’t Read). Inilah pabrik raksasa yang memproduksi buta nalar secara massal, sebuah sistem yang merampas kemewahan waktu bagi manusia untuk duduk hening, membaca secara radikal, dan merenungkan esensi dari apa yang ia baca.

4. Anomie di Era Distopia Digital

Sosiolog klasik Émile Durkheim pernah merumuskan konsep anomie, sebuah kondisi tanpa norma yang terjadi ketika masyarakat mengalami perubahan yang terlalu cepat, sehingga individu kehilangan pedoman moral dan rasional untuk berinteraksi. Hari ini, anomie itu termanifestasi dalam bentuk distopia digital. Karena tidak ada lagi basis nalar yang disepakati bersama, ruang publik berubah menjadi arena gladiator sentimen.

Perhatikan bagaimana masyarakat kita berdebat di kolom komentar. Argumen “A” tidak dibalas dengan sanggahan terhadap premis “A”, melainkan diserang dengan ad hominem (menyerang karakter personal) atau whataboutism (mengalihkan isu).

  • Orang 1: “Kebijakan impor ini merugikan petani lokal karena menghancurkan harga pasar.” (Sebuah argumen berbasis struktural).
  • Orang 2: “Ah, kamu kan memang dari dulu barisan sakit hati pendukung oposisi.” (Sebuah respons buta nalar).

Percakapan di atas menunjukkan runtuhnya kemampuan mengelola pertukaran ideologis. Masyarakat terpecah ke dalam suku-suku digital (echo chambers) di mana mereka hanya membaca teks yang disetujui oleh kelompoknya, dan menyerang teks apa pun yang berasal dari luar kelompoknya tanpa pernah membedah isi teks tersebut.

5. Institusi Pendidikan: Pabrik Sertifikat, Bukan Rahim Nalar

Kritik terhadap fenomena buta nalar tidak akan tuntas tanpa menggugat institusi pendidikan kita. Bagaimana mungkin negara dengan jutaan sarjana baru setiap tahunnya bisa gagal dalam uji logika dasar?

Jawabannya adalah karena institusi pendidikan kita telah mereduksi literasi menjadi sekadar “keterampilan operasional” untuk dunia industri. Kurikulum kita mengejar ketuntasan materi, bukan kedalaman penalaran. Mahasiswa dijejali dengan PowerPoint ringkasan, dituntut menghafal teori untuk ujian pilihan ganda, dan didorong untuk lulus secepat mungkin demi memenuhi kuota akreditasi kampus.

Ruang-ruang diskusi yang menuntut pembacaan teks primer, seperti membedah satu buku filsafat atau sosiologi kata demi kata, kalimat demi kalimat secara mendalam, telah lama dianggap tidak praktis. Akibatnya, kita melahirkan generasi sarjana yang melek huruf, bisa mengoperasikan alat-alat berat, mahir menggunakan perangkat lunak statistik, namun secara intelektual lumpuh. Mereka tidak bisa membaca ketidakadilan struktural yang terjadi di depan mata mereka karena instrumen nalar mereka tidak pernah diasah.

Merayakan terbebasnya Indonesia dari buta huruf hari ini terasa seperti merayakan berdirinya dinding rumah sementara fondasinya sedang ambles ke dalam tanah. Melek huruf hanyalah infrastruktur dasar, ia tidak memiliki nilai inheren jika tidak diisi dengan nalar yang tajam.

Bebas dari buta nalar menuntut sebuah perlawanan kultural. Ia tidak bisa diselesaikan hanya dengan membagikan buku gratis atau memperbanyak perpustakaan keliling, jika buku-buku yang dibagikan tidak pernah dibedah, didiskusikan, dan dibenturkan dengan realitas sosial yang ada.

Melawan buta nalar berarti melawan arus realisme kapitalis yang memaksa kita berpikir dangkal. Ia adalah upaya merebut kembali kedaulatan akal dari jajahan algoritma dan demagogi politik. Karena pada akhirnya, peradaban tidak hancur oleh masyarakat yang tidak bisa mengeja aksara, melainkan oleh masyarakat yang bisa membaca segala hal, namun sama sekali tidak memahami apa-apa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *