Mengapa Timnas Argentina Didominasi Kulit Putih?
Pernahkah kamu menyadari satu keunikan visual setiap kali Timnas Argentina berbaris menyanyikan lagu kebangsaan di lapangan? Di tengah tren sepak bola modern yang semakin multikultural, di mana timnas Prancis, Inggris, bahkan Ekuador dan Kolombia dihiasi oleh keberagaman ras dan pemain keturunan, wajah skuad Argentina seolah stagnan. Mereka nyaris 100 persen diisi oleh pemain kulit putih keturunan Eropa.
Bagi banyak penonton kasual, fenomena ini memunculkan pertanyaan sederhana tapi menggelitik, Di mana orang kulit hitam atau penduduk asli (indigenous) di Timnas Argentina? Bukankah mereka negara Amerika Selatan yang bertetangga dengan Brasil?
Jawabannya ternyata tidak ada hubungannya dengan bakat atau urusan taktik pelatih di atas lapangan. Absennya keberagaman di skuad La Albiceleste adalah cerminan langsung dari salah satu proyek rekayasa sosial dan demografi paling masif dalam sejarah modern.

Untuk memahami wajah Timnas Argentina hari ini, kita harus mundur ke abad ke-19. Para elit politik Argentina saat itu punya satu obsesi besar yakni mereka menginginkan Argentina menjadi “Eropanya Amerika Selatan”.
Tokoh-tokoh nasional mereka kala itu secara terbuka mempromosikan kebijakan imigrasi besar-besaran dari Eropa. Konstitusi mereka bahkan secara spesifik didesain untuk mendorong masuknya imigran kulit putih dari Italia, Spanyol, hingga Jerman. Tujuan utamanya jelas, ingin “memodernisasi” negara dan menggeser populasi penduduk asli serta Afro-Argentina.
Jutaan orang Eropa datang bergelombang, membawa serta budaya, dialek, dan tentu saja permainan sepak bola. Sepak bola yang awalnya dibawa oleh pelaut dan pekerja kereta api asal Inggris, perlahan diadopsi dan diubah menjadi budaya jalanan (potrero) oleh anak-anak imigran Italia dan Spanyol di Buenos Aires. DNA sepak bola Argentina sejak awal memang tumbuh di lingkungan pekerja kulit putih keturunan Eropa ini.
Lalu, ke mana perginya populasi kulit hitam? Di masa lalu, Buenos Aires sebenarnya memiliki populasi kulit hitam keturunan Afrika yang cukup besar. Namun, sejarah mencatat serangkaian peristiwa tragis dan sistematis.
Banyak pria Afro-Argentina yang dikirim ke garis depan sebagai “tumbal” dalam Perang Paraguay yang brutal pada pertengahan 1800-an. Ditambah lagi dengan wabah Demam Kuning, populasi mereka menurun drastis. Lebih dari itu, ada upaya sistematis dari negara saat itu untuk “memutihkan” (whitening) data sensus penduduk. Orang-orang berdarah campuran didorong untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai kulit putih. Sejarah orang kulit hitam di Argentina pelan-pelan dihapus dari memori kolektif bangsa.

Tim nasional sepak bola, di negara mana pun, pada dasarnya adalah etalase identitas nasional. Ketika Prancis menjuarai Piala Dunia dengan skuad yang didominasi imigran generasi kedua dari Afrika, mereka sedang memamerkan wajah Prancis modern pasca-kolonial. Begitu juga dengan Brasil yang merayakan keindahan Jogo Bonito lewat perpaduan budaya Afro-Brasil.
Sementara itu, skuad Argentina hari ini, baik dari era Diego Maradona, Gabriel Batistuta, hingga Lionel Messi dan Alexis Mac Allister (yang namanya sangat kental berbau Irlandia/Skotlandia), adalah monumen hidup dari proyek “Eropanisasi” abad ke-19 tersebut. Mereka adalah keturunan dari jutaan imigran Eropa yang datang mencari harapan baru di pampas Amerika Selatan.
Menyoroti dominasi kulit putih di Timnas Argentina bukanlah sebuah serangan terhadap para pemainnya. Lionel Messi dkk tentu saja tidak memilih lahir dari ras apa, dan mereka bermain murni untuk lambang negara di dada.
Namun, membaca skuad Argentina secara kritis mengajarkan kita satu literasi penting bahwa sepak bola tidak pernah berada di ruang hampa. Di balik deretan pemain yang menari-nari memegang bola di lapangan, selalu ada narasi sejarah panjang tentang bagaimana sebuah bangsa dibentuk, siapa yang diundang untuk datang, dan siapa yang diam-diam disingkirkan dari catatan sejarah.